Selasa, 26 Desember 2017

Senja Di Negri Palestina


Malam itu malam yang indah sebelum puluhan rudal meluluh-lantakan bumi palestina, rudal-rudal berjatuhan bagai pesta kembang api di malam tahun baru. Dua rudal meledakkan atap rumah dan halaman belakang rumahku. “Ibu… Ibu.” teriakku tapi tak ada balasan aku berlari menuju ruang keluarga dan ternyata Ibu dan kedua saudaraku telah tewas tertimbun reruntuhan rumah dan hanya menyisakan pergelangan tangan kiri dan sebuah cincin di jari manisnya. Aku mengambil cincin tersebut seakan aku punya firasat bahwa Ibuku pasti menyuruhku untuk mengambilnya untuk diberikan kepada Ayahku.

Suara 2 orang menggunakan sepatu bot terdengar aku berusaha untuk tidak menangis karena takutnya yang datang adalah orang-orang zionis yang ingin membumi hanguskan palestina.
“hey gadis kecil kamu baik-baik saja?” tanya seorang pemadam tersebut, aku mengangguk dan di bawah ke luar dari rumah. Ketika aku ke luar dari rumah aku melihat banyak orang menangis, berteriak dan meratapi keluarga mereka yang sudah mati, mereka meratapi sambil mencaci-maki dan melaknat orang-orang israel, ketika melihat banyak orang menangis, berteriak aku jadi ingin mengikuti apa yang mereka lakukan tapi aku sudah berjanji kepada Ayahku, “Azkia jika suatu hari engkau melihat Ayah, Ibu atau saudaramu mati engkau tidak boleh menangis sampai bisa menimbulkan orang yang mendengar ikut menangis juga!” jadi aku hanya diam karena aku bingung harus berbuat apa?

“hey mereka keluargamu?” tanya seorang pemuda yang kepalanya di perban.
“iya.” ku balas dengan nada cuek.
“kenapa kau tidak menangis sedangkan keluargamu telah tiada? Apa kau salah satu dari mereka?” tanya pemuda itu dengan geram.
“percuma saja kalau aku menangis jika aku besok, lusa atau kapanlah belum tentu bisa hidup terus jika aku mati siapa yang akan menangisiku?” tanyaku dengan emosi.
“kau itu gadis bodoh mana kau tahu tentang orang-orang terlaknat itu.” tanya pemuda itu sembari meninggalkanku sendiri.


para pemuda, pemudi palestina tinggalkan kota ini untuk sementara waktu naiklah ke mobil ini selamatkan generasi palestina dari tangan orang-orang terlaknat.” suara seorang hamas terdengar jelas melalui speaker. Aku mulai berpikir untuk menanyakan apakah dia kenal dengan Ayahku. Begitu ku dekati ternyata orang itu bukanlah seorang hamas melainkan seorang pemuda.

“hey namamu siapa? Apakah keluargamu masih ada yang selamat?” sapa pemuda itu.
“namaku Azkia, keluargaku hanya tinggal Ayahku tapi aku tidak tahu sekarang dia ada di mana.” kataku.
“apakah Ayahmu seorang hamas?” kata orang itu sambil memandangi wajahku lekat-lekat. Aku mengangguk dengan pelan.
“siapa namanya? mungkin aku bisa mempertemukan kalian.” tanyanya.
“namanya Yahyed Haidar.” ketika mendengar nama Ayahku temannya yang berpenampilan hamas tersentak kaget.


“apa kau bilang Yahyed Haidar?” tanya orang itu.
“apakah anda mengenalnya jika iya tolong bawalah aku untuk bertemu dengan Ayahku.” tiba-tiba orang itu ruku memandang wajahku dengan jelas dan memegang pudakku dia berkata.
“kau harus sabar Ayahmu kemaren tertangkap oleh zionis israel.” ketika mendengar kata-kata orang itu rasanya seperti seember timah dituangkan dari ujung kepala rasanya hidup ini tak ada gunanya lagi tapi aku harus tetap hidup untuk mencari penjara tempat Ayahku ditahan dan memberinya kabar bahwa aku masih hidup.
“ayo Azkia kita pergi menuju ke pengungsian.” ajak pemuda itu, aku hanya diam dan duduk di pojok mobil itu sambil mendengar anak-anak mengoceh betapa kejamnya zionis israel itu, aku hanya mendengar ocehan tersebut sambil tidur di atas lututku. Mobil berhenti pertanda bahwa sudah sampai di ke pengungsian.


“ayo para generasi palestina kita sudah sampai di kemah pengungsian.” teriak pemuda itu. Aku turun sambil membetulkan jilbab dan menaruh cincin dalam kantongku.
“hey.” sapa pemuda itu, aku menoleh tanpa ekspresi.
“apa?” jawabku dengan nada cuek.
“aku belum mencatat nama dan umurmu.” tanyanya.
“namaku Azkia.” jawabku.
“umurmu?” tanyanya sambil mencatat, “16 tahun.” kataku.


“ahh jadi kita sebaya apakah Ayahmu seorang hamas?” tanyanya.
“ia sebelum dia tertangkap apakah kau tahu di mana Ayahku ditahan?” tanyaku dengan wajah memohon.
“mungkin Ayahmu sedang ditahan di jerusalem.” kata pemuda itu. Aku segera meninggalkan pemuda itu sebelum dia mendatangiku.


“Azkia ini ada sesuatu untukmu.” kata pemuda itu sambil menyerahkan pisau lipat kecil.
“untuk apa ini aku tak akan menerima ini jika ini tak ada gunanya.” kataku.
“ini untuk berjaga-jaga apabila ada tentara zionis yang mengancammu lemparkanlah pisau ini dan berlarilah.” katanya dengan bangga.
“terima kasih.” kataku sambil pergi meninggalkan pemuda itu, ternyata nama pemuda itu adalah Jasir aku baru tahu.


Hari-hariku terasa sepi dan hanya ditemani oleh Jasir dan Zainab gadis kecil yang bisa melihat masa depan. Suatu pagi Zainab berlari ke arahku sambil menangis.
“Kakak, Kakak aku melihat Kakak dalam mimpiku akan ditembak oleh tentara zionis.” katanya.
“apa? tidak mungkin, kau jangan bicara sembarangan Zainab.” kata Jasir aku hanya tiduran di atas batu sambil memandang langit.
“Azkia kenapa kau hanya diam saja?” tanya Jasir.
“sudahlah dia benar kan pada waktu sekolah di belakang kemah pengungsian itu akan dijatuhi bom dan terjadi.” kataku sambil memandang langit.


“apakah kau percaya dengan kata-katanya?” kata Jasir dengan wajah melas.
“mungkin Allah memberi kelebihan pada Zainab.” Zainab kelihatan gelisah saat melihat aku pasrah.
“apakah Kakak tidak takut?” kata Zainab.
“tidak jika aku mati aku bisa bertemu dengan keluargaku.” kataku.
“tidak kau tidak boleh mati karena aku.. aku. Sudahlah yangterpenting kau tidak boleh mati.” kata pemuda itu dengan nada bicara gagap.
“kak Jasir Kakak mau ke mana?” Jasir pergi kea rah kantor kemah pengungsian.
“aku yakin Jasir ingin mengatakan sesuatu tapi tapi dia malu untuk mengatakannya mungkin karena ada Zainab.” gumamku dalam hati, dan Zainab pergi menyusul Jasir. Dan meninggalkanku sendiri.

Aku tak tahu kenapa setiap memandang langit biru dan melihat awan membayangkan awan itu akan menjadi apa? Ternyata pikiranku menjadi tenang. Hari minggu hari yang tenang hanya ada tentara zionis yang sedang memandangi kemah pengungsian anak-anak banyak yang melakukan gerakan intifadho dengan melempari mereka dengan batu, tentara itu hanya diam dan sesekali menembakkan tembakan peringatan untuk menakut-nakuti anak-anak palestina, mereka tidak gentar dan aku melemparkan batu sebesar kepalan tangan dan menyebabkan satu tentara zionis itu berdarah di kepala dan saat itu peluru ditembakkan ke arahku dan saat itu pula dunia terasa seperti tidak ada suara. Jasir menghampiriku sambil menangis.
“Azkia kau harus bangun kau tidak boleh mati kau harus tetap hidup.” kata Jasir sambil menggendongku menuju rumah sakit terdekat setelah sampai di rumah sakit tiba-tiba dunia menjadi gelap dan muncul bayangan Ibuku.
“Azkia kau tidak boleh menyusul Ibu sekarang Ibu, Ahmed, Fatima senang berada di sini dan kamu harus ingat bahwa Ibu selalu bersamamu kamu harus bangun Azkia.” ketika aku membuka mata aku melihat Jasir duduk di sampingku dengan wajah sembab seperti habis menangis. Ketika aku mencoba duduk dadaku mulai terasa sakit lagi dan tanpa diperintah mulutku mengerang sehingga membangunkan Jasir.

“kau sudah bangun Azkia?” tanya Jasir.
“aku sudah tidur berapa hari?” tanyaku.
“5 hari.” kata Jasir sambil mengambilkan segelas air putih.
“sudahlah kau istirahat saja supaya cepat sembuh.”
Aku merebahkan tubuhku dan rasa sakit di dadaku perlahan berkurang sekian lama kami berdua tidak ada yang berbicara, “hmmm.. Azkia.” kata Jasir tampak gelisah.
“kenapa?” tanyaku dengan polos.
“hmm.. Zainab telah mati.” tiba-tiba rasa sakit di dadaku muncul lagi.
“sudahlah semua sudah diatur oleh Allah.” kata Jasir sambil memegang tanganku.
“apakah aku sudah bisa kembali ke kemah pengungsian?” tanyaku.
“ayo aku gendong ada mobil kemah di depan.” kata Jasir sambil mengangkatku.

Ketika sampai di mobil kemah aku dinaikkan dan langsung duduk di pojok Jasir menghampiriku, “apakah kau baik-baik saja?” tanya Jasir dengan nada khawatir.
“kau lihat aku sedang apa? Kalau aku bisa duduk berarti aku tidak kenapa-kenapa.” jawabku dengan santai.
“aku takut hari ini hari terakhir kita bertemu.” kata Jasir.
“sudahlah kita pasrahkan saja pada Allah.” kataku ketika mobil berhenti pertanda kami sudah sampai di kemah pengungsian.

Dan ketika aku turun aku, aku disuguhi dengan pemandangkan yang amat menyedihkan. Ada 2 anak yang ditembak dan dilemparkan ke dalam kandang anjing, “ayo kita hancurkan kemah ini.” kata seorang tentara israel yang ku lukai kepalanya. Tiba-tiba dari belakang tembok muncul sebuah mobil slender (mobil perata aspal) yang amat besar aku segera menghadang tapi Jasir mencengkeram lenganku, “jangan Azkia aku tidak ingin kamu mati.” kata Jasir, “lepaskan aku Jasir!” bentakku.
“aku tak akan membiarkanmu ke sana.” katanya.
“lepaskan!” teriakku sambil meronta-ronta.

Setelah berhasil lepas dari cengkeraman aku langsung berlari ke depan slender dan menghadangnya agar tidak jadi untuk meratakan kemah tersebut, Jasir mengikutiku dari belakang, karena dia mengikutiku kakinya ditembak oleh tentara zionis, “minggir kau gadis bodoh atau ku lindas kau!” bentak tentara tersebut tapi aku tidak gentar dengan kata-kata tentara tersebut. Setelah itu mobil slender tersebut melaju dan melindasku. Jasir menangis, berteriak-teriak dan mencaci maki orang-orang terlaknat itu. Seakan senja yang indah ikut menangis dan seakan bumi beserta seluruh isinya melaknat israel.

Yosh mina itu tadi cerpen karangan aku menurut kalian gimana?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar