Minggu, 11 Februari 2018

APEX PREDATOR

Aneh, jika orang yang baru pertama kali melihatku pasti akan berfikir seperti itu, memang jika dilihat dari penampilanku dengan gaya rambut acak-acakan serta raut muka seakan mengatakan persetan dengan semua ini, memang pantas aku dipanggil aneh tapi ada yang lebih aneh daripada sikapku, entah ini disebut kutukan, kekuatan atau barokah yang terpenting kekuatan ini sangat membuatku bosan. Dunia yang dulunya amat menghindariku bisa kuubah dengan cepat menjadi dunia yang mencintaiku, dengan kekuatan memanipulasi pikiran aku dapat melakukan apapun yang kumau tapi tetap saja semua ini membuatku bosan. Mungkin kalian pernah mendengar atau membaca tentang "APEX PREDATOR" atau predator yang berada di puncak rantai makanan memang menyenangkan tapi kalian tidak tau betapa bosannya berada di puncak. Aku sering berharap ada orang lain yang memiliki kekuatan sepertiku tapi aku sudah mencari dimanapun internet, social media DLL, tidak ada kata satupun yang menyinggung kekuatan super.
Hari berjalan seperti biasa nenek menyiapkan sarapan seperti hari-hari sebelumnya, meskipun sudah bungkuk beliau tetap merawatku dengan kasih sayang. Memulai hari memang hal paling membosankan dari bangun tidur sampai sekolah, dulu ketika sampai di sekolah aku segera duduk dan diam sampai pelajaran dimulai namun sekarang berbeda aku memiliki banyak teman tapi setiap aku ingat telah mengubah pikiran semua orang tentang diriku hal itu membuatku jengkel "hei Robin!!!" Hani berlari sambil berteriak seperti induk itik yang kehilangan anaknya "kau sudah mendengar rumor di kota sebelah?" Hani adalah orang yang pertamakali aku ubah pikirannya karena aku sangat menyukainya namun aku tak berani berbuat lebih jauh "memang ada rumor apa kok heboh banget?" Hani seperti kegirangan ketika aku berbicara dengannya, memang aku dapat memanipulasi pikiran tapi aku tidak dapat memanipulasi perasaan seseorang "banyak yang bilang di kota sebelah ada gadis yang mampu membuat kata-kata yang dikeluarkan menjadi kenyataan!" Aku kaget mendengar apa yang  Hani katakan "jika dia dapat membuat apa yang dikatakannya menjadi kenyataan dia dapat menemukanku dengan mudah atau mungkin saja membunuhku, yang pasti keadaan ini sangat merugikanku" aku melamun menghiraukan Hani yang duduk menunggu reaksiku aku terus memutar otak sampai Agus menghampiri kami  "Robin minggu ini gak ada kerjaan kan?" aku mengangguk "kalau begitu bagaimana kalau ikut dengan kami MEMANCING" yap memancing!! aku menggeleng dan Agus pergi meninggalkan kami.
Hari berganti malam dan aku hanya menunggu rencanaku dengan menyuruh Hani menyebarkan rumor bahwa Agus memiliki kekuatan telekinesis bukan hanya Hani tapi semua orang yang berpapasan denganku masuk dalam rencanaku untuk melihat reaksi dari gadis yang mampu membuat semua menjadi nyata hanya dengan ucapannya, jika Agus meninggal dalam satu minggu berarti gadis ini tidak ingin ada pesaing lain dan jika Agus bertahan lebih dari dua minggu berarti gadis itu tahu Agus hanyalah umpan, jika kau bilang ini kejam aku hanya bisa bilang ini merupakan sifat alami manusia yang takakan pernah puas.
Sekolah hari ini tidak seperti sebelumnya banyak murid yang berlari kearah kelasku ketika aku bertanya pada salah satu murid mereka hanya menutup mulut seakan ingin muntah, aku semakin penasaran dan masuk ke dalam kelas terdapat darah yang menggenangi sosok tubuh yang lemas tak berdaya, Agus mati dengan sangat mengenaskan entah bagaimana caranya sikunya keluar dari mulut apa-apaan ini kenapa reaksinya secepat ini, apa dia tahu aku dapat memanipulasi pikiran?, bagai mana ini bisa terjadi secepat ini?. Aku berjalan mengitari mayat Agus dan menemukan nomer telepon yang ditulis dengan darah, aku memanggil ketua kelasku dan bilang jika terdapat nomer telepon lalu menyuruhnya segera menelpon nomor tersebut, aku sengaja menyuruh ketua kelas untuk menelpon nomor tersebut untuk berjaga-jaga namun tiba-tiba ketua kelas terjatuh sambil berteriak "joker 192.168.1.1" dan akhirnya meninggal.
Hari itu sekolah mendadak diliburkan selama tiga hari dan aku mengantar Hani pulang, aku tahu yang di teriakan ketua kelas adalah nama samaran gadis itu Joker serta IP adress suatu alamat tapi kenapa? apa gadis itu berniat membunuhku? atau mungkin ingin berbicara langsung denganku jika dia ingin bertarung denganku mungkin akan memakan banyak korban jika aku ingin membunuhnya mungkin dia sudah berbicara "siapapun yang membunuhnya akan ikut mati" dari sini yang harus aku waspadai jika aku merubah pikiran seseorang untuk membunuhnya maka secara tidak langsung aku juga yang membunuhnya, lalu bagaimana jika dia berbicara "aku abadi" hal ini semakin membuat otakku buntu "aku pulang dulu, tentang kejadian yang barusan terjadi lebih baik tak perlu di pikirkan" ucapan Hani menyadarkanku kalau sekarang kami sudah berada di depan rumahnya, aku hanya mengangguk setelah ini apa yang akan ku lakukan mungkin aku harus menggunakan rencana ini, rencana yang mungkin akan melibatkan negara, karena sebuah desa tidak akan menang melawan satu kerajaan.
Pagi hari sangat cerah sampai suara teriakan orang-orang yang berlarian, entah kenapa pagi ini begitu ramai aku keluar dari rumah melihat kejadian yang sangat aneh, apa ini mimpi? jika ini mimpi apakah ini mimpi buruk paling mengerikan? kenapa? bagaimana mungkin semua ini bisa terjadi? bagaimana caranya semua rumah yang berada di samping jalan bisa meledak ini tidak logis sama sekali perlahan namun pasti ledakan itu mendekati rumahku, aku terlempar karena ledakan rumahku dan segera terlintas di pikiranku tentang nenekku yang tertidur di atas ranjang didalam rumah yang sekarang hancur “nenek....ne..nenek!!!!” aku menjerit sekuat tenaga tanpa peduli terhadap rumah-rumah yang sekarang menjadi debu, terdiam tidak tahu harus melakukan apa?, aku berteriak namun tak ada yang perduli. Inikah perang yang kau nyatakan joker? akan kubalaskan dendam nenekku tidak peduli kau bersekutu dengan seluruh alam semesta aku akan mengalahkanmu dalam permainan ini.
Dalam sebuah game jika kau menang sebelum musuh menyerang mungkin membosankan tapi berbeda dengan keadaanku saat ini, aku terdesak tak tahu harus bagaimana melanjutkan permainan ini Joker sudah seperti dewa semua ucapannya akan menjadi kenyataan, apa ini waktuku menyerah mungkin semua ini sia-sia tapi meski sia-sia aku akan membalaskan dendam nenekku, bencana ini, mereka yang tewas, nenekku semua orang yang bersedih kehilangan rumah, keluarga, teman akan kubalaskan dendam mereka memanipulasi pikiran orang sebanyak ini mungkin akan membuat kepalaku sakit meskipun resikonya besar aku takpeduli yang memenangkan permainan ini adalah aku jadi aku mulai memanipulasi pikiran beberapa orang untuk menyebarkan gosip tentang joker yang menyebabkan semua ini dan belum satu hari isu itu sudah beredar luas bahkan sekarang joker menjadi incaran negara tidak, mungkin bukan hanya satu negara saja yang mengincar joker melainkan satu dunia.
Setelah kejadian itu para korban yang kehilangan rumah dipindahkan ke tempat pengungsian aku tidak melihat Hani beberapa hari ini kemana dia pergi?, atau mungkin dia sudah tewas tertimbun reruntuhan? aku sudah tidak peduli lagi yang kupedulikan sekarang hanya memenangkan permainan ini dan segera mengahirinya. Mula-mula aku mengubah pikiran ketua gank motor paling kejam di kotaku namanya Riko tidak sulit untuk sekedar mendekatinya karena setengah anggotanya tewas dalam kejadian itu, mengubah pikirannya untuk menyulik anak gubernur dan menuntut agar joker segera di tangkap memang ide bagus dan rencana itu sudah berjalan tadi pagi, sedangkan aku hanya duduk di depan televisi menunggu berita yang akan menyiarkan penculikan itu, seperti inilah aku menggerakkan orang semauku, mengorbankan orang semauku laksana bidak dalam papan catur, berita yang kutunggu-tunggu akhirnya muncul dan berita ini pun seperti tragedi besar di kotaku dengan judul “Gank motor menuntut pemerintah menangkap joker yang telah menewaskan puluhan anggotanya” ingin aku tertawa melihat berita itu tidak mungkin bahwa pemerintah langsung percaya dengan kekuatan joker, sekarang giliranku mengubah pikiran seseorang agar bisa mengendalikan pikiran orang lain selain diriku dan membuat onar untuk membuat joker keluar dari tempat persembunyian.
Setelah menjalankan rencanaku aku kembali duduk di depan televisi menunggu apa yang terjadi berikutnya, mengejutkan sekali bukan hanya orang-orangku yang menolak keberadaan joker tapi masyarakat yang pikirannya tidak ku ubah ikut berdemo di depan gedung pemerintah dan semua personil militer turun tangan untuk segera menangkap joker dewi fortuna seakan sedang memegang bahuku kemenangan semakin dekat sedangkan orang lain yang kuberi kekuatan sedang membuat onar di depan kota, aku memang orang lemah tapi orang lemah selalu menang jika menggunakan otaknya. Tak selang beberapa lama sosok yang ditunggu ratusan orang tiba-tiba muncul dengan sangat keren ya Joker muncul dengan kedatangan yang menghebohkan dia berteriak di depan kerimunan tentara “aku Joker bunuh aku jika kalian bisa!” dengan sigap pasukan militer yang berada didepannya menembak gadis itu bunyi tembakan peluru terdengar keras dan tak berhenti sampai semua sunyi dan sebuah suara memecah kesunyian tersebut “hanya ini yang kalian punya? Ini bahkan tidak menggoresku!” sebelum para personil tentara akan menembakinya lagi Joker berteriak “yang menembakiku tadi MATI!!!” entah seperti tikus yang keracunan ratusan personil militer tadi ambruk tak bernyawa “jika seperti ini kekuatanmu, aku akan menang dengan mudah!” gumamku dalam hati dan sebentar lagi waktunya aku turun panggung. Aku tahu kau pasti sudah terlalu banyak menggunakan kekuatanmu tapi kau belum merasakannya hal seperti itu dulu juga sering kualami yang berdampak melumpuhkan seluruh badan hingga takmampu bergerak, entah sudah berapa banyak kekuatan yang kau keluarkan mulai dari tragedi di kampung halamanku yang hancur lebur, menahan ratusan peluru, membunuh ratusan militer dan jika menurutmu aku juga mengeluarkan seluruh kekuatan yang aku punya kau salah besar aku hanya menggunakan tiga orang dan mereka menggunakan orang lain sampai sebanyak ini dengan kata lain aku bahkan belum mengeluarkan kekuatanku, sebuah suara yang sangat keras memecah keheningan disertai debu yang menutupi pandangan dan itu membuatku kehilangan pengelihatan yang memaksaku keluar dari rungan menuju atap gedung ini, semua orang akan terkejut jika melihat sebua gedung pencakar langit jatuh dan hanya ada seseorang yang berdiri diantara ratusan mayat yang tergeletak orang itu tidak lain adalah joker, aku masih belum bisa turun panggung karena para pionku masih tersisa lebih banyak,  aku mengamatinya dengan teliti dan menemukan suatu kejanggalan kenapa seseorang yang ucapannya selalu jadi kenyataan tidak mau tergores? Aneh bukan. Mungkin kekuatannya tidak berpengaruh jika digunakan secara tidak langsung pada tubuh pemiliknya, apakah sudah waktunya turun tangan? Kubulatkan tekad menuruni lantai demi lantai bersiap menghadapi monster yang menyamai kekuatan dewa.
Aku berjalan mendekati joker, semua rencana yang sudah kususun hilang dihadapannya “kau unknown?” badanku gemetar ketakutan dihadapannya, joker mengangkat tangannya sambil menunjuk ke arahku tapi sebuah granat meledak di sampingnya tubuhnya terlempar dan menyadarkan ku akan suatu hal bahwa dia tidak bisa menggunakan kekuatannya jika dia belum berbicara tentang apa yang akan menimpanya dan setelah granat meledak sebuah tubuh ambruk memka fakta bahwa ucapan sebelumnya tidak bisa di batalkan jika dia belum membatalkan apa yang telah di ucapkan, peluru, yang menyerang dia akan mati, bangunan roboh dan granat. Aku terfikirkan sebuah ide yang sangat pas untuk situasi saat ini “joker kenapa kau lakukan semua ini?” “kau bercanda? Bukankah kau yang menginginkan ini?” kata joker sambil mencoba bangkit “kau tidak punya pikiran? Dengan kekuatan itu kau bahkan bisa menguasai alam semesta” “menguasai alam semesta? Jangan bercanda, jika aku bisa menguasai alam semesta aku tidak akan kesulitan melawanmu!” dia terpancing “jika begitu mungkin kau orang bodoh yang mempunyai kekuatan mengerikan tidak lebih dari itu” “jangan sombong hanya dengan ini!” “hanya orang pintar dan orang kuatlah yang berhak sombong, orang lemah dan bodoh sepertimu yang tidak bisa mengalahkanku mencoba mengelak? Jangan bercanda” joker kembali berdiri tegak “maaa……” sebuah pisau menancap di punggungnya “apa ini?... Dasar licik” “hah? Licik? Kau membuatku tertawa, dalam memperebutkan tempat tertinggi tidak ada yang namanya licik” orang yang menancapkan pisau ambruk dan seorang lagi melepas topeng joker sambil menutup mulutnya agar tidak bisa bicara lagi. “Hani?” pikiranku kosong tak mampu berfikir, hani melotot padaku dengan mata yang seakan berbicara “jangan sok akrab denganku” aku melepas topeng putih polos ku dan Hani meneteskan air mata, sisi lain ku berteriak “bunuh wanita itu dia yang telah membunuh nenekmu, menghancurkan rumahmu, menghancurkan kebahagiaanmu” “tapi aku mencintainya” kini aku berbicara dengan diriku sendiri “persetan dengan cinta, kau yang memulai ingat dan kau sendiri yang harus mengakhiri” dan seseorang memenggal kepala Hani dan tergeletaklah orang lain itu “selamat tinggal Hani” aku berpaling memberi perintah bunuh diri kepada semua orang yang pikirannya berada di bawah kendaliku serta menghilangkan ingatanku jika aku mempunyai kekuatan ini dan berharap bahwa kehidupanku akan berjalan lancar setelahnya.

TAMAT

Robin Arcadia

Selasa, 26 Desember 2017

Senja Di Negri Palestina


Malam itu malam yang indah sebelum puluhan rudal meluluh-lantakan bumi palestina, rudal-rudal berjatuhan bagai pesta kembang api di malam tahun baru. Dua rudal meledakkan atap rumah dan halaman belakang rumahku. “Ibu… Ibu.” teriakku tapi tak ada balasan aku berlari menuju ruang keluarga dan ternyata Ibu dan kedua saudaraku telah tewas tertimbun reruntuhan rumah dan hanya menyisakan pergelangan tangan kiri dan sebuah cincin di jari manisnya. Aku mengambil cincin tersebut seakan aku punya firasat bahwa Ibuku pasti menyuruhku untuk mengambilnya untuk diberikan kepada Ayahku.

Suara 2 orang menggunakan sepatu bot terdengar aku berusaha untuk tidak menangis karena takutnya yang datang adalah orang-orang zionis yang ingin membumi hanguskan palestina.
“hey gadis kecil kamu baik-baik saja?” tanya seorang pemadam tersebut, aku mengangguk dan di bawah ke luar dari rumah. Ketika aku ke luar dari rumah aku melihat banyak orang menangis, berteriak dan meratapi keluarga mereka yang sudah mati, mereka meratapi sambil mencaci-maki dan melaknat orang-orang israel, ketika melihat banyak orang menangis, berteriak aku jadi ingin mengikuti apa yang mereka lakukan tapi aku sudah berjanji kepada Ayahku, “Azkia jika suatu hari engkau melihat Ayah, Ibu atau saudaramu mati engkau tidak boleh menangis sampai bisa menimbulkan orang yang mendengar ikut menangis juga!” jadi aku hanya diam karena aku bingung harus berbuat apa?

“hey mereka keluargamu?” tanya seorang pemuda yang kepalanya di perban.
“iya.” ku balas dengan nada cuek.
“kenapa kau tidak menangis sedangkan keluargamu telah tiada? Apa kau salah satu dari mereka?” tanya pemuda itu dengan geram.
“percuma saja kalau aku menangis jika aku besok, lusa atau kapanlah belum tentu bisa hidup terus jika aku mati siapa yang akan menangisiku?” tanyaku dengan emosi.
“kau itu gadis bodoh mana kau tahu tentang orang-orang terlaknat itu.” tanya pemuda itu sembari meninggalkanku sendiri.


para pemuda, pemudi palestina tinggalkan kota ini untuk sementara waktu naiklah ke mobil ini selamatkan generasi palestina dari tangan orang-orang terlaknat.” suara seorang hamas terdengar jelas melalui speaker. Aku mulai berpikir untuk menanyakan apakah dia kenal dengan Ayahku. Begitu ku dekati ternyata orang itu bukanlah seorang hamas melainkan seorang pemuda.

“hey namamu siapa? Apakah keluargamu masih ada yang selamat?” sapa pemuda itu.
“namaku Azkia, keluargaku hanya tinggal Ayahku tapi aku tidak tahu sekarang dia ada di mana.” kataku.
“apakah Ayahmu seorang hamas?” kata orang itu sambil memandangi wajahku lekat-lekat. Aku mengangguk dengan pelan.
“siapa namanya? mungkin aku bisa mempertemukan kalian.” tanyanya.
“namanya Yahyed Haidar.” ketika mendengar nama Ayahku temannya yang berpenampilan hamas tersentak kaget.


“apa kau bilang Yahyed Haidar?” tanya orang itu.
“apakah anda mengenalnya jika iya tolong bawalah aku untuk bertemu dengan Ayahku.” tiba-tiba orang itu ruku memandang wajahku dengan jelas dan memegang pudakku dia berkata.
“kau harus sabar Ayahmu kemaren tertangkap oleh zionis israel.” ketika mendengar kata-kata orang itu rasanya seperti seember timah dituangkan dari ujung kepala rasanya hidup ini tak ada gunanya lagi tapi aku harus tetap hidup untuk mencari penjara tempat Ayahku ditahan dan memberinya kabar bahwa aku masih hidup.
“ayo Azkia kita pergi menuju ke pengungsian.” ajak pemuda itu, aku hanya diam dan duduk di pojok mobil itu sambil mendengar anak-anak mengoceh betapa kejamnya zionis israel itu, aku hanya mendengar ocehan tersebut sambil tidur di atas lututku. Mobil berhenti pertanda bahwa sudah sampai di ke pengungsian.


“ayo para generasi palestina kita sudah sampai di kemah pengungsian.” teriak pemuda itu. Aku turun sambil membetulkan jilbab dan menaruh cincin dalam kantongku.
“hey.” sapa pemuda itu, aku menoleh tanpa ekspresi.
“apa?” jawabku dengan nada cuek.
“aku belum mencatat nama dan umurmu.” tanyanya.
“namaku Azkia.” jawabku.
“umurmu?” tanyanya sambil mencatat, “16 tahun.” kataku.


“ahh jadi kita sebaya apakah Ayahmu seorang hamas?” tanyanya.
“ia sebelum dia tertangkap apakah kau tahu di mana Ayahku ditahan?” tanyaku dengan wajah memohon.
“mungkin Ayahmu sedang ditahan di jerusalem.” kata pemuda itu. Aku segera meninggalkan pemuda itu sebelum dia mendatangiku.


“Azkia ini ada sesuatu untukmu.” kata pemuda itu sambil menyerahkan pisau lipat kecil.
“untuk apa ini aku tak akan menerima ini jika ini tak ada gunanya.” kataku.
“ini untuk berjaga-jaga apabila ada tentara zionis yang mengancammu lemparkanlah pisau ini dan berlarilah.” katanya dengan bangga.
“terima kasih.” kataku sambil pergi meninggalkan pemuda itu, ternyata nama pemuda itu adalah Jasir aku baru tahu.


Hari-hariku terasa sepi dan hanya ditemani oleh Jasir dan Zainab gadis kecil yang bisa melihat masa depan. Suatu pagi Zainab berlari ke arahku sambil menangis.
“Kakak, Kakak aku melihat Kakak dalam mimpiku akan ditembak oleh tentara zionis.” katanya.
“apa? tidak mungkin, kau jangan bicara sembarangan Zainab.” kata Jasir aku hanya tiduran di atas batu sambil memandang langit.
“Azkia kenapa kau hanya diam saja?” tanya Jasir.
“sudahlah dia benar kan pada waktu sekolah di belakang kemah pengungsian itu akan dijatuhi bom dan terjadi.” kataku sambil memandang langit.


“apakah kau percaya dengan kata-katanya?” kata Jasir dengan wajah melas.
“mungkin Allah memberi kelebihan pada Zainab.” Zainab kelihatan gelisah saat melihat aku pasrah.
“apakah Kakak tidak takut?” kata Zainab.
“tidak jika aku mati aku bisa bertemu dengan keluargaku.” kataku.
“tidak kau tidak boleh mati karena aku.. aku. Sudahlah yangterpenting kau tidak boleh mati.” kata pemuda itu dengan nada bicara gagap.
“kak Jasir Kakak mau ke mana?” Jasir pergi kea rah kantor kemah pengungsian.
“aku yakin Jasir ingin mengatakan sesuatu tapi tapi dia malu untuk mengatakannya mungkin karena ada Zainab.” gumamku dalam hati, dan Zainab pergi menyusul Jasir. Dan meninggalkanku sendiri.

Aku tak tahu kenapa setiap memandang langit biru dan melihat awan membayangkan awan itu akan menjadi apa? Ternyata pikiranku menjadi tenang. Hari minggu hari yang tenang hanya ada tentara zionis yang sedang memandangi kemah pengungsian anak-anak banyak yang melakukan gerakan intifadho dengan melempari mereka dengan batu, tentara itu hanya diam dan sesekali menembakkan tembakan peringatan untuk menakut-nakuti anak-anak palestina, mereka tidak gentar dan aku melemparkan batu sebesar kepalan tangan dan menyebabkan satu tentara zionis itu berdarah di kepala dan saat itu peluru ditembakkan ke arahku dan saat itu pula dunia terasa seperti tidak ada suara. Jasir menghampiriku sambil menangis.
“Azkia kau harus bangun kau tidak boleh mati kau harus tetap hidup.” kata Jasir sambil menggendongku menuju rumah sakit terdekat setelah sampai di rumah sakit tiba-tiba dunia menjadi gelap dan muncul bayangan Ibuku.
“Azkia kau tidak boleh menyusul Ibu sekarang Ibu, Ahmed, Fatima senang berada di sini dan kamu harus ingat bahwa Ibu selalu bersamamu kamu harus bangun Azkia.” ketika aku membuka mata aku melihat Jasir duduk di sampingku dengan wajah sembab seperti habis menangis. Ketika aku mencoba duduk dadaku mulai terasa sakit lagi dan tanpa diperintah mulutku mengerang sehingga membangunkan Jasir.

“kau sudah bangun Azkia?” tanya Jasir.
“aku sudah tidur berapa hari?” tanyaku.
“5 hari.” kata Jasir sambil mengambilkan segelas air putih.
“sudahlah kau istirahat saja supaya cepat sembuh.”
Aku merebahkan tubuhku dan rasa sakit di dadaku perlahan berkurang sekian lama kami berdua tidak ada yang berbicara, “hmmm.. Azkia.” kata Jasir tampak gelisah.
“kenapa?” tanyaku dengan polos.
“hmm.. Zainab telah mati.” tiba-tiba rasa sakit di dadaku muncul lagi.
“sudahlah semua sudah diatur oleh Allah.” kata Jasir sambil memegang tanganku.
“apakah aku sudah bisa kembali ke kemah pengungsian?” tanyaku.
“ayo aku gendong ada mobil kemah di depan.” kata Jasir sambil mengangkatku.

Ketika sampai di mobil kemah aku dinaikkan dan langsung duduk di pojok Jasir menghampiriku, “apakah kau baik-baik saja?” tanya Jasir dengan nada khawatir.
“kau lihat aku sedang apa? Kalau aku bisa duduk berarti aku tidak kenapa-kenapa.” jawabku dengan santai.
“aku takut hari ini hari terakhir kita bertemu.” kata Jasir.
“sudahlah kita pasrahkan saja pada Allah.” kataku ketika mobil berhenti pertanda kami sudah sampai di kemah pengungsian.

Dan ketika aku turun aku, aku disuguhi dengan pemandangkan yang amat menyedihkan. Ada 2 anak yang ditembak dan dilemparkan ke dalam kandang anjing, “ayo kita hancurkan kemah ini.” kata seorang tentara israel yang ku lukai kepalanya. Tiba-tiba dari belakang tembok muncul sebuah mobil slender (mobil perata aspal) yang amat besar aku segera menghadang tapi Jasir mencengkeram lenganku, “jangan Azkia aku tidak ingin kamu mati.” kata Jasir, “lepaskan aku Jasir!” bentakku.
“aku tak akan membiarkanmu ke sana.” katanya.
“lepaskan!” teriakku sambil meronta-ronta.

Setelah berhasil lepas dari cengkeraman aku langsung berlari ke depan slender dan menghadangnya agar tidak jadi untuk meratakan kemah tersebut, Jasir mengikutiku dari belakang, karena dia mengikutiku kakinya ditembak oleh tentara zionis, “minggir kau gadis bodoh atau ku lindas kau!” bentak tentara tersebut tapi aku tidak gentar dengan kata-kata tentara tersebut. Setelah itu mobil slender tersebut melaju dan melindasku. Jasir menangis, berteriak-teriak dan mencaci maki orang-orang terlaknat itu. Seakan senja yang indah ikut menangis dan seakan bumi beserta seluruh isinya melaknat israel.

Yosh mina itu tadi cerpen karangan aku menurut kalian gimana?
Yosh mina san

Perkenalkan nama saya hmmm panggil aja Robin sok keren LOL, saya tinggal di Surabaya kota besar yang makin lama makin sempit soal padatnya penduduk dan lalulintas. Jangan anggap kalo aku udah tua lho ya aku masih 18 tahun (promosi). Alasan aku membuat blog ini ya cuma buat ngutarain apa yang ada di dalam pikiran aja sih dan misal ada yang pengen kenalan ato yang tinggal di Surabaya mungkin kita bisa saling berteman (efek kesepian huhuhuhu) 
Follow IG aku ya: robin_arcadia
Mungkin kita bisa jadi temen 😊